Archive for the ‘Uncategorized’ Category

WASHING BALL

Alat untuk cuci Bersih Pakaian, TANPA DETERJEN
Cukup 1x Bilas saja
Lebih Murah Dari Deterjen
Hemat Listrik, Hemat Air, Hemat Waktu

Apa itu Washing Ball ?Washing Ball adalah bola pencuci hasil inovasi baru teknologi Korea yang dapat menggantikan deterjen untuk pekerjaan mencuci pakaian. Didalam bola terdapat Butiran Pencuci, Butiran Kramik & Magnet dengan komposisi khusus sehingga bisa membersihkan pakaian TANPA DETERJEN.

Washing Ball untuk mencuci 8kg pakaian kering cukup dengan Rp.200 (Kualitas deterjen matic, sehingga aman untuk pakaian dan mesin cuci anda) atau 100 kali cuci

Washing Ball proses mencuci ( 1x cuci, 1x bilas, keringkan ) hemat listrik dan air serta mesin cuci lebih awet karena proses mencuci yang sangat singkat. (HASIL CUCIAN SAMA BERSIHNYA DENGAN MENGGUNAKAN DETERJEN)

Mengapa sebaiknya kita beralih ke Magic Washing Ball ?

* Produk ramah lingkungan tanpa deterjen/kimia sehingga tidak mencemari apapun.
* Produk ramah di kulit sehingga tidak menimbulkan iritasi terutama untuk pakaian bayi.
* Produk ini sangat hemat /ramah di kantong hanya Rp.+-200.- sekali cuci.

http://www.youtube.com/watch?v=MIszAolfn-g&feature=player_embedded

1. Bahan Cangkang/bola: Terbuat dari plastik yang sangat kuat, tahan pecah, tahan suhu dingin maupun panas tetapi sangat elastis dan lentur, sehingga dijamin aman untuk pakaian dan mesin cuci anda.
2. Butiran Pencuci bekerja membantu melepaskan kotoran yang membandel dan melembutkan kain.
3. Magnet khusus yang berfungsi :

* Menetralisir klorida,kaporit,karat,kerak,kotoran yang sering terdapat dalam air terutama air PDAM, sehingga melindungi oksidasi dan perubahan warna kain dan membantu mempertahankan elastisitas kain.
* Memperkecil molekul air menjadi pertikel sehingga meningkatkan kemampuan mencuci dari air itu sendiri.
* Mengaktifkan ion magnet pada air dan merubah karakteristik kimia dan fisik (magnet, ion, alkali) menjadi air hexagonal (seperti air dalam tubuh) dan meningkatkan oksigen terlarut dalam air. Kotoran, bau dalam mesin cuci dan pipanya hilang karena detoks yang kuat.
* Sterilisasi & Antibiotik: medan magnet mengakibatkan gelombang air yang akan mensterilkan bakteri dan menghalang pertumbuhan bakteri.

4. Butiran Keramik :

* Bekerja memecahkan molekul air dalam ukuran nanometer, sehingga mudah mengangkat kotoran diserat kain.
* Mengaktifkan lebih dari 80 macam mineral alami (Na, Ca, Ba, Fe, Al2o3, Sio2,K, Mg, Tio2, dll)
* Menghilangkan jamur, kuman, organisme patogen, dan bau tidak sedap.
* Mampu menghasilkan sinar infra merah dan ion negatif untuk memperkuat daya cuci.
* Dapat meningkatkan level pH air sesuai dengan pH level deterjen biasa, sehingga tidak perlu menggunakan deterjen lagi dalam mencuci pakaian.

Bagaimana proses kerja Washing Ball ?
Saat Anda mencuci, Washing Ball ini akan menarik makromolekul padat yang menempel pada kain, sehingga secara perlahan akan melepaskan kotoran dan noda lain dari pakaian.

Proses pelepasan makromolekul ini akan menyebabkan kadar PH dalam air meningkat, dan mengaktifkan molekul air.
Molekul air yang aktif dapat memudahkan serat kain mengendur, sehingga proses pemisahan kotoran dari pakaian lebih cepat.

Hal inilah yang membuat kinerja mesin cuci dimudahkan, karena kotoran dalam pakaian lebih cepat terpisah dari serat kain.

Manfaat Washing Ball :

* Menghemat listrik dan air, mesin cuci lebih tahan lama karena proses mencuci jadi lebih singkat hanya 1x bilas saja.
* Tidak perlu beli deterjen berkali-kali.
* Pemakaian jangka panjang sangat murah sekali.
* Bisa dipakai untuk mencuci 1000 x / Pemakaian 3 Tahun
* Tidak mengandung deterjen sehingga tidak akan menyebabkan masalah kulit seperti Alergi atau Iritasi.
* Melindungi oksidasi & perubahan warna kain yang disebabkan oleh klorida dalam air dan membantu untuk mempertahankan Elastisitas kain.
* Berfungsi sebagai Antibiotik yang dapat menghilangkan jamur, Organisme Patogen, bau tidak Sedap.
* Tidak perlu lagi menambahkan pemutih, pelembut dan bahan aditif lainnya. Cukup Tambahkan pewangi bila Anda menginginkan bau harum, karena Washing Ball tidak menghasilkan bau harum tetapi bau segar.
* Anak-anak atau wanita yang mungkin sangat renta terkena alergi atau kulit yang sensitive akan sangat merasakan keuntungan dari Washing Ball.
* Tidak perlu diukur(takaran), tidak membuat berantakan/belepotan, dan tidak perlu repot untuk diisiulang.
* Mencuci lebih Murah, bersih, cepat, dan praktis.
* Ramah lingkungan ( tidak mencemari lingkungan karena tanpa deterjen )

Cara Mencuci Dengan Washing ?

Mesin Cuci ( semua jenis mesin cuci )

1. Masukkan pakaian dan Washing Ball ke dalam mesin cuci.
2. Setting mesin cuci seperti biasa, cukup 1x bilas (1x cuci,1x bilas, keringkan) tidak perlu bilas berkali-kali karena tidak ada sisa deterjen yang harus dibersihkan.
3. Setelah selesai angkat cucian lalu jemur seperti biasa.
4. Tinggalkan Washing Ball dalam mesin cuci / Simpan ditempat kering.

Mencuci Dengan Tangan
Washing Ball secara khusus dirancang untuk pencucian memakai mesin cuci, karena putaran di dalam mesin cuci akan menyebabkan terjadinya goncangan terhadap Washing Ball yang membuat ceramic pellet dan washing pellet bekerja secara optimal
Jika Anda tetap menghendaki pemakaian Washing Ball pada pencucian memakai tangan, maka Anda HARUS melalui tahapan sbb :

* Tuang air secukupnya ke dalam ember cucian, lalu masukkan Washing Ball ke dalam air selama 60 menit (tanpa pakaian). Goncangkan Washing Ball menggunakan tangan selama 5-10 menit
* Masukkan pakaian dan rendam selama 60 menit lagi. Goncangkan Washing Ball menggunakan tangan selama 5-10 menit lagi
* Setelah itu pakaian dikucek seperti biasa dan cukup 1x bilas saja.
* Setelah selesai jemur seperti biasa dan Simpan Washing Ball ditempat kering.

Cara Merawat Washing Ball ?

* Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal sebaiknya cucilah Washing Ball 1 bulan sekali dengan air bersih dan keringkan / angin-anginkan selama 1 jam.
* Setiap 1 pcs Washing Ball efektif dipakai mencuci pakaian seberat maksimal 8 kg (berat pakaian kering). Lebih dari 8 kg (berat pakaian kering) gunakan 2 pcs Washing Ball.
* Washing Ball sama persis fungsinya dengan deterjen , noda yang deterjen bisa angkat , Washing Ball bisa, yang deterjen tidak bisa angkat Washing Ball pun tidak bisa. Sekali lagi Washing Ball ini untuk menghemat pengeluaran bulanan anda, kegunaan sama persis dengan deterjen.
* 1 pcs SONIC BALL efektif dipergunakan mencuci sebanyak 1000x atau pencucian selama 3 tahun (jika Washing Ball dipergunakan mencuci 1x sehari)

BAGI TEMAN-TEMAN YANG TERTARIK DAPAT MEMESAN DAN DIANTAR KEALAMAT YBS.

5. Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada organisasi, ketika mereka melakukan pengalihan/konversi dari suatu sistem lama ke sistem yang baru. Jelaskan mengapa fenomena ini terjadi! Jelaskan pula berbagai cara dalam pengkonversian sistem, dengan berbagai asumsinya agar kesalahan tersebut tidak terjadi. Jelaskan !

Konversi sistem merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendali baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedurnya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.
Fenomena kegagalan pada konversi sistem terjadi karena:
1) Sistem yang dikembangkan tidak atau kurang sesuai dengan keinginan user, karena proses investigasi, analisa design sistem yang dikembangkan kurang tajam.
2) Adanya perilaku yang cenderung menolak atau sulit menerima setiap perubahan dalam organisasi perusahaan, khususnya yang sistem informasi baru yang memerlukan peningkatan pengetahun dan keterampilan.
3) Adanya kekhawatiran dari karyawan perusahaan apabila sistem informasi baru (komputerisasi) diimplementasikan akan terjadi ‘lay-off’ karyawan perusahaan. (pengurangan pegawai)..
4) Tidak dibarengi dengan ‘business re-engineering process’, sehingga sistem komputerisasi kurang memberikan dampak effisiensi dan efektivitas yang maksimal bagi perusahaan.
5) Perencanaan aktivitas implementasi tidak dipersiapkan secara comprehensive dan integrated yang meliputi aktivitas :
• Hardware, software and services acquisition
• Software development or modification
• End user training
• System documentation & Conversion methode : pilot project, paralllel cut-over, phase-in cut over, direct cut over (plunge).

Ada empat metode konversi sistem, yaitu :
a. Konversi Langsung (Direct Conversion)
b. Konversi Paralel (Parallel Conversion)
c. Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)
d. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

A. Konversi Langsung (Direct Conversion)
Konversi jenis ini dilakukan langsung dengan cara menghentikan sistem lama digantikannya dengan sistem baru. Resiko yang besar timbul dengan cara ini, akan tetapi memakai biaya murah. Konversi Iangsung merupakan pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang juga disebut pendekatan cold turkey. Dengan sistem ini apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.
Pendekatan atau cara konversi ini akan bermanfaat apabila :
• Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain
• Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai
• Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya
• Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem-sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan cara ini : relatif murah. Kelemahan : bisa menimbulkan risiko kegagalan yang tinggi. Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting.

B. Konversi Paralel (Parallel Conversion)
Konversi ini menerapkan dimana sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah pada masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, sehingga sistem lama segera dihentikan. Cara pengunaan sistem ini adalah pendekatan yang paling aman, tetapi paling mahal, karena adanya kegiatan menjalankan dua sistem sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu. la kebalikan dari konversi langsung.
Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing sistem tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi. Kelebihan : dapat memberikan derajad proteksi yang tinggi terhadap organisasi dari kegagalan sistem baru. Kelemahan : besarnya biaya untuk pemakaian dua fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut. Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai untuk mengetahui kinerja sistem tersebut. Mereka harus menentukan tanggal atau waktu penerimaan dalam tempo yang wajar dan memutus sistem lama.

C. Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)
Konversi ini dengan cara menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Apabila ada sesuatu terjadi, bagian yang baru diterapkan dapat diganti kembali dengan yang sistem lama. Masalah dalam modul-modul baru terjadi dapat dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Pendekatan dalam sistem ini dapat membuat sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung. Pada netode konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara bertahap dan sedikit-sedikit mengganti yang lama sehingga menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang cukup bagi pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi. Aktivitas pengumpulan data baru diimplementasikan, dan mekanisme interface dengan sistem lama dikembangkan. Interface ini memungkinkan sistem lama beroperasi dengan data input baru. Kemudian aktivitas-aktivitas akses database baru, penyimpanan, dan pemanggilan diimplementasikan. Sekali lagi, mekanisme interface dengan sistem lama dikembangkan. Segmen lain dari sistem baru tersebut di-instal sampai keseluruhan sistem diimplementasikan.
Kelebihan sistem ini : mampu memberikan waktu untuk terjadinya perubahan dalam organisasi tertentu sehingga kece[atan dapat diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama periode waktu yang lebih panjang. Kelemahan : memerlukan biaya untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, dengan daya terapnya terbatas, dan dapat menimbulkan adanya kemunduran semangat di organisasi, karena adanya rasa tidak dapat menyelesaikan sistem.

D. Konversi Pilot (Pilot Conversion)
Meode ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu untuk menjadi pelopor. Jika cara konversi ini berhasil, maka akan diberlakukan pada tempat-tempat yang lain. Cara ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. dimana hanya sebagian dari organisasi yang mencoba mengembangkan sistem baru. Beda antara metode phase-in yang mensegmentasi sistem, metode pilot mensegmentasi organisasi. Metode konversi ini lebih sedikit berisiko dibandingkan dengan metode langsung, dan lebih murah dibandingkan dengan metode paralel. Segala kesalahan dapat dilokalisir dan dikoreksi sebelum implementasi lebih jauh ditakukan. Apabila sistem baru melibatkan prosedur baru dan perubahan yang drastis dalam hal perangkat lunaknya, metode pilot ini akan lebih cocok digunakan.
Selain berfungsi sebagai tempat pengujian (test site), sistem pilot juga digunakan untuk melatih pemakai seluruh organisasi dalam menghadapi lingkungan “live” (hidup atau sebenarnya) sebelum sistem tersebut diimplementasikan di lokasi mereka sendiri.

Konversi sistem berhasil tergantung pada seberapa bisanya profesional sistem menyiapkan penciptaan dan pengkonversian file data yang diperlukan untuk sistem baru. Dengan mengkorversi suatu file, maksudnya adalah bahwa file yang tetah ada (existing) harus dimodifikasi setidaknya dalam : Format file tersebut, Isi file tersebut, Media penyimpanan dimana file ditempatkan. Dalam suatu konversi sistem, kemungkinan beberapa file bisa mengalami ketiga aspek konversi tersebut secara serentak.
Ada dua metode dasar yang bisa digunakan untuk menjalankan konversi file :
a. Konversi File Total dapat digunakan bersama dengan semua metode konversi file sistem di atas.
b. Konversi File Gradual (sedikit demi sedikit) terutama digunakan dengan metode paralel dan phase-in. Dalam beberapa contoh, is akan bekerja untuk metode pilot. Umumnya konversi file gradual tidak bisa diterapkan untuk konversi sistem langsung.
A. Konversi File Total
Jika file sistem baru dan file sistem lama berada pada media yang bisa dibaca komputer, maka bisa dituliskan program sederhana untuk mengkonversi file dari format lama ke format baru. Umumnya pengkonversian dari satu sistem komputer ke sistem yang lain akan melibatkan tugas-tugas yang tidak bisa dikerjakan secara otomatis. Rancangan file baru hampir selalu mempunyai field-field record tambahan, struktur pengkodean baru, dan cara baru perelasian item-item data (misalnya, file-file relasional). Seringkali, selama konversi file, kita perlu mengkonstruksi prosedur kendali yang rinci untuk memastikan integritas data yang bisa digunakan setelah konversi itu. Dengan menggunakan klasifikasi file berikut, perlu diperhatikan jenis prosedur kendali yang digunakan selama konversi :
• File Master, Ini adalah file utama dalam database. Biasanya paling sedikit satu file master diciptakan atau dikonversi dalam setiap konversi sistem.
• File Transaksi, File ini selalu diciptakan dengan memproses suatu sub-sistem individual di dalam sistem informasi. Akibatnya, is harus dicek secara seksama selama pengujian sistem informasi.
• File Indeks, File ini berisi kunci atau alamat yang menghubungkan berbagai file master. File indeks baru harus diciptakan kapan saja file master yang berhubungan dengannya mengalami konversi.
• File Tabel, File ini dapat juga diciptakan dan dikonversi selama konversi sistem. File tabel bisa juga diciptakan untuk mendukung pengujian perangkat lunak.
• File Backup, Kegunaan file backup adalah untuk memberikan keamanan bagi database apabila terjadi kesalahan pemrosesan atau kerusakan dalam pusat data. Oleh karenanya, ketika suatu file dikonversi atau diciptakan, file backup harus diciptakan.

B. Konversi File Gradual
Beberapa perusahaan mengkonversi file-file data mereka secara gradual (sedikit demi sedikit). Record-record akan dikonversi hanya ketika mereka menunjukkan beberapa aktivitas transaksi. Record-record lama yang tidak menunjukkan aktivitas tidak pernah dikonversi. Metode ini bekerja dengan cara berikut :
a. Suatu transaksi diterima dan dimasukkan ke dalam sistem.
b. Program mencari file master baru (misalnya file inventarisasi atau file account receivable) untuk record yang tepat yang akan di update oleh transaksi itu. Jika record tersebut telah siap dikonversi, berarti peng-update-an record telah selesai.
c. Jika record tersebut tidak ditemukan dalam file master baru, file master lama diakses untuk record yang tepat, dan ditambahkan ke file master baru dan di update.
d. Jika transaksi tersebut adalah record baru, yakni record yang tidak dijumpai pada file lama maupun file baru (misalnya, pelanggan baru), maka record baru disiapkan dan ditambahkan ke file master baru

Cara-cara yang dapat dilakukan agar kesalahan alih sistem informasi dapat dihindari:
1. Melihat visi saat pembangunan dengan mengoptimalkan peranti yang sudah dikembangkan. Sehingga aplikasi yang ada dapat menyesuaikan dengan aplikasi sebelumnya dan menunjang kegiatan yang ditetapkan dalan visis pengembangannya.
2. Adanya kerjasama antara orang yang mengoperasian sistem dengan pengembang sistem, sehingga perubahan yang terjadi mampu diketahui sehingga tidak menimbulkan masalah baru.
3. Jangan sampai perancangan sistem yang baru dapat menimbulkan rasa takut di pihak pegawai maupun manajerakan kegagalan proyek pengembangan dan pengoperasian.
4. Melakukan sosialisasi akan cara yang baru yang dapat dilakukan oleh manajemen puncak pada tahap awal maupun tahap penerapan
5. Membangun hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen. Sehingga tidak ada rasa saling menyalahkan dan saling mencurigai yang dapat membuang waktu dalam pengembangan sistem baru yang lebih baik
6. Menyelaraskan harapan akan kebutuhan pegawai sebagai penguna dengan tujuan perusahaan. Dan membuat kenyaman penguna diluar perusahaan sehingga menciptakan pandangan yang positif terhadap sistem yang baru dikembangkan

O’Brien. J. 2008. Management Infornation Systems; International Edition. Mc Graw Hill. New York.
Kadir, Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Penerbit Andi. Yogyakarta

LINK TERKAIT:
http://suherli.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/31/no-2-kesalahan-kesalahan-yang-mungkin-terjadi-saat-pengalihan-atau-konversi-suatu-sistem-lama-ke-sistem-baru-dan-cara-cara-penkonversian-sistem-dengan-berbagai-asumsi-agar-tidak-terjadi-kesalahan/

4. Organisasi saat ini sering melakukan outsourcing dalam pengembangan maupun penerapan system informasi di organisasinya. Jelaskan apa yang menjadi alasan mereka pada umumnya. Jelaskan pula apa keuntungan dan kelemahan dari pengembangan system informasi secara outsourcing dibandingkan dengan insourcing!

Sistem informasi manajemen (SIM) adalah bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur oleh akuntansi manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau suatu strategi bisnis.
Berdasarkan penelitian mahasiswa Universitas Islam Indonesia; Fatur Wahid, 32 perusahaan yang bergerak dalam berbagai sektor di berbagai kota di Indonesia. Sebanyak 15,6% perusahaan tidak mempunyai bagian sistem informasi, sedang sisanya (84,4%) mempunyai departemen Sistem informasi. Dimana sebanyak 46,72% sistem informasi yang digunakan oleh perusahaan dikembangkan secara insourcing, 26,21% dengan outsourcing, sedang sisanya (27,07%) merupakan hasil kustomisasi sistem informasi yang ada di pasar.

Sistem Informasi Manajemen (SIM) mulai mendapat perhatian pelaku bisnis sejak 1950-an. Pada awalnya, titik fokus utama ialah efisiensi karena SIM memanfaatkan sebuah metoda universal yang secara sistematis dan efektif dapat dengan cepat menanggulangi permasalahan yang timbul dari waktu ke waktu. Secara umum tahapan pengembangan informasi adalah: 1) Survei sistem / preliminary 2) Analisis Sistem 3) Desain Sistem 4) Pembuatan Sistem 5) Implementasi Sistem 6. Pemeliharaan Sistem

Kemampuan sumber daya dari departemen sistem teknologi informasi, tersedia dengan baik seperti; adanya analis dan pemrogram yang berkualitas membuat perusahaan dapat membuat sendiri, kalau tidak memadai dapat memilih outsourcing.

Jika keputusan pengembangan secara internal (insourcing), biasanya yang dipertimbangkan selanjutnya adalah metode pengembangan STI oleh pemakai sistem (end user development / EUD) atau end user computing (EUC). Faktor penentu pengembangan STI tergantung pada dampak STI tersebut, jika dampaknya sempit yaitu hanya individu pemakai sistem dan pengembang sistem, maka EUC dapat dilakukan. Sebaliknya jika dampaknya luas sampai ke organisasi, pengembangan dengan EUC akan berbahaya, karena bila terjadi kesalahan dampaknya berpengaruh pada pemakai sistem lainnya atau pada organisasi secara luas.
Pada pengunaan metode EUC biasanya mengunakan prototyping, dimana dengan metode ini pemakai STI tidak menungu terlalu lama, karena metode protoyping digunakan dengan segera dalam pengoperasian sehingga permasalahan dapat segera diselesaikan lewat metode ini, dimana pengambilan keputusan tidak lambat karena jadwal pemakaian bersifat segera. Jika jadwal pengembangan STI longar dan pengembangannya mempunyai cukup banyak waktu untuk menciptakan sistem secara utuh dapat mengunakan SDLC sebagai motode yang tepat.

Untuk membangun suatu sistem informasi melalui proses penyusunan sistem, proses yang dimulai dari konsep sistem sampai dengan operasi sistem guna menganalisa fenomena disebut SDLC (system Development Life Cycle) atau siklus hidup pengembangan sistem. Dengan meningkatnya kebutuhan dan permasalahan bisnis, mendorong perusahaan untuk melakukan perubahan organisasi dan sistem informasi. SDLC merupakan metodelogi paling lama dalam pengembangan sistem, dengan mengunakan SDLC akan memakan waktu yang lama dan biaya yang mahal untuk melakukan tahapan pengembangan sistem. Beberapa permasalahan dapat dipecahkan melalui pengembangan sistem melalui prototyping dan paket sofware aplikasi. Menurut O’brein (1990) SDLC terdiri dari lima tahap: 1). Investigasi sistem 2) Analisis sistem 3) Rancang Bangun 4) Implementasi sistem 5) Perawatan sistem. Diatambahkan bahwa metode prototyping merupakan pengembangan sistem yang cepat dan interaktif baik untuk aplikasi yang besar maupun kecil. Metode ini dapat diperlihatkan dan didemonstrasikan kepada penguna untuk dievaluasi. Dengan demikian penguna dapat menentukan kebutuhan-kebutuhan informasi yang lebih baik. Karena dengan adanya masukan dari penguna sehingga dapat dilakukan evaluasi dan validasi model kerja (prototype) sistem untuk disempurnakan dan menghasilkan prototipe yang lebih baik karena telah disempurnakan. Dua jenis prototyping yaitu 1) Discovery Prototyping; yaitu pembangunan didasarkan oleh analisa kebutuhan dengan analisis saja, penguna baru terlibat setelah prototipe telah dibentuk 2) Refinery prototyping, dimana sejak awal pembuatan penguna dilibatkan sehingga dihasilkan suatu sistem yang lebih handal karena berpartisipasi dalam pengembangan sistem.

Terdapat beberapa alasan pengembangan sistem metode prototipe lebih banyak digunakan, karena 1) Kebutuhan sistem dapat dirumuskan bersama-sama antara analis dengan pengguna 2) pengembangan jauh lebih cepat dan sesuai dengan kebutuhan penguna (Abutaman, 1996)
Outsourcing adalah pengembangan sistem informasi yang diserahkan kepada pihak luar/ pihak ketiga, sedangkan insourcing sistem informasi digunakan dan dikembangkan sendiri. Pada metode outsourcing ini pengembangan dan pengoperasian oleh pihak ketiga. Pada prakteknya lebih dari itu dimana segalah kegiatan diserahkan sepenuhnya termasuk pemrosesan pemasukan dan pengolahan data, jadi tidak hanya membuat, menyediakan perangkat kerasnya, dukungan pemeliharaan, serta pelayanan dan pemulihan dari ganguan. Cara ini tidak lazim di Indonesia akan tetapi populer di Amerika. Beberapa perusahaan menyediakan tempat diperusahaan sendiri, bisa juga terpisah namun keduanya dapat melakukan hubungan dengan sistem komputer lewat teknologi informasi.
Pemiliahan keputusan insourcing atau out sourcing dilakukan berdasarkan;
a. Budjet yang diangarkan
b. Keputusan stratejik
c. Kontribusi aktifitas teknologi informasi terhadap operasi dan posisi bisnis
d. Analisis strategic gird

A. Berdasarkan budjet
Keputusan untuk melakukan insourcing atau outsourcing ditentukan oleh;
• De facto insourcing, keputusan untuk mendanai 100% insourcing dari semua pengembangan sistem dan operasinya dilakukan internal organisasi, yang biasanya dilakukan oleh departemen sistem informasi atau deparemen TI.
• Total in-sourcing, keputusan dengan sebagian besar (sekitar 80% dari budjet) pengembangan dan operasi TI dilakukan oleh internal organisasi
• Selective outsourcing, keputusan dimana sebagian besar (sapai 80% budjet) pengembangan dan operasi TI dilakukan oleh penyedia jasa outsourcing
• Total outsourcing, keputusan sebagian besar (lebih dari 80% budjet) pengembangan dan pengoperasian diserahkan kepada pihak luar.

B. Berdasrkan Jenis aplikasinya; Stratejik dan kritikal
Sekarang ini outsourcing menjadi alternatif yang dipilih, tetapi tidak setiap aplikasi tepat untuk di-outsouce-kan. Biasanya aplikasi yang tidak di-outsource-kan adalah aplikasi yang jenisnya tidak statejik dan tidak kritikal. Karena jika aplikasi yang bersifat stratejik di-outsouce-kan maka perusahaanakan kehilangan keuntungan kempetisinya sehingga tidak menjadi stratejik lagi, dimana jika terjadi pesaing mengunakan aplikasi yang sama. Untuk aplikasi yang sifatnya kritis tidak di-outsouce-kan karena jika terjadi ganguan dengan aplikasi akan dapat cepat diperbaiki oleh perusahaan, jika di-outsouce-kan akan terhambat karena outsoucer terpisah temopat dengan perusahaan.

C. Kontribusi aktifitas teknologi informasi terhadap operasi dan posisi bisnis
Keputusan apakah sistem teknologi informasi akan di-outsource atau di-insource juga ditentukandengan kontribusi aktifitas teknologi informasi terhadap operasi dan posisi bisnis. Dengan demikian terdapat dua dimensi untuk mengevaluasi keputusan outsourcing, yaitu;
• Kontribusi TI terhadap posisi bisnis, misalnya diferensiasi; aktifitas TI memberikan kemampuan stratejik perusahaan menjadi berbeda dengan perusahaan lain, komoditas; aktifitas TI tidak menyumbang posisi stratejik perusahaan, dimana komoditasnya biasa.
• Kontribusi TI terhadap operasi bisnis, misalnya Kritikal; TI digunakan untuk opersi bisnis kritikal, berguna; TI sangat berguna untuk digunakan pada operasi bisnis, tetapi bukan untuk operasi bisnis kritikal
Sehingga dapat dikategorikan empat kategori kontribusi TI terhadap posisi dan operasi bisnis, yaitu;
• Diferensiasi kritikal, aktifitas TI mampu mendukung stratjik perusahaan dan operasi yang kritikal, sehingga TI harus dikembangkan sendiri oleh perusahaan. Kategori insource
• Komoditas kritikal, TI digunakan untuk operasi perusahaan yang kritikal tetapi tidak memberikan posisi stratejik perusahaan.Aplikasi TI ini dapat di-outsouce-kan, sejauh masalah kritikal yang mungkin terjadi harus dipikirkan dan diatasi. Termasuk kategori best source
• Komoditas berguna, aktifitas TI tidak digunakan untuk operasi yang kritikal dan tidak memberikan posisi stratejik pada perusahaan. Aplikasi TI semacam ini sangat mungkin di-outsouce-kan. Kategori ini disebut dengan oursource
• Diferensiasi berguna, aktifitas TI, tidak digunakan untuk operasi yang kritikal tetapi memberikan posisi stratejik pada perusahaan. Aplikasi TI semacam ini sebaiknya tidak untuk di-outsouce-kan. Kategori ini disebut dengan eliminate atau migrate.

D. Berdasarkan Analisis Strategic Gird
Apliaksi TI yang memberikan posisi strategik kepada perusahaan sebaiknya tidak di-outsouce-kan tetapi dikembangkan dan dioperasikan di internal perusahaan. Posisi perusahaan dakan startegic grid ditentukan dua dimensi, yaitu ketergantungan opersi perusahaan terhadap TI sekarang dan portpolio pengembangan aplikasi-aplikasi TI dimasa depan (ketergantungan operasi perusahaan terhadap TI sekarang di masa depan). Sehingga dapat di bagi menjadi 4 kuadran yaitu; 1). Factory dengan rekomendasi aplikasi untuk di-outsouce-kan. 2). Strategic, dengan rekomendasi aplikasi untuk tidak di-outsouce. 3). Support, dengan rekomendasi aplikasi untuk di-outsouce. 4). Turnaround, dengan rekomendasi aplikasi TI untuk tidak di-outsource-kan.
Gambar 3. McFarlan and McKenney’s Strategic Grid

Penyerahan kepada pihak ketiga terjadi jika perusahaan tidak memiliki personil dan spesialis bidang teknologi informasi. Cara ini menguntungkan bila pihak yang diserahkan telah berpegalaman sehingga pengembangannya dapat lebih cepat, selain itu harganya bisa juga relatif murah karena banyak perusahaan kecil dan besifat lokal menyediakannya. Ada beberapa pertimbangan dalam pembuatan sistem ini :
a. Menentukan pihak pengembang dengan hati-hati. Sebaiknya yang berpengalaman
b. Menandatangani kontrak. Yaitu sebagai pengikat tanggung jawab dan pegangan untuk melanjutkan atau menghentikan proyek jika ada masalah dlam pengembangan
c. Merencanakan dan menonitor setiap tahap pengembangan. Diharapkan tercapainya keberhasilan lewat aktifitas pengontrolan dapat dilakukan dengan mudah
d. Mengadakan komunikasi efektif antara pihak pengembangan dan perusahaan. Diharapkan tidak terjadi konflik dan hambatan yang terjadi
e. Mengendalikan biaya dengan tepat. Seperti persentase pembayaran berdasarkan tingkat keberhasilan dalam proyek

Kelebihan out sourcing
1) Perusahaan dapat berkonsentrasi pada bisnis utama yang ditangani perusahaan akan lebih fokus pada bisnis intinya tanpa harus memikirkan pengembangan sistem informasi.
2) Meningkatkan kas dan asset perusahaan karena perusahaan tidak mengeluarkan asset terlalu besar untuk bidang teknologi informasi termasuk resiko kegagalan yang mahal karena pengembangan sendiri
3) Transformasi teknologi yang lebih maju dan adanya kepakaran yang lebih baik, karena penyedia menyediakan yang lebih berkualitas dibanding perusahaan sendiri, dan adanya spesialisasi dan ahli dibidang tersebut.
4) Membebaskan SDM internal untuk tujuan lain selain bisnis inti perusahaan. Dengan out sourcing, maka pekerjaan karyawan yang khusus menangani pekerjaan inti bisnis, sehingga dengan outsourcing tidak akan menganggu sehingga tidak merubah kapasitas produksi.
5) Menghemat biaya karena pengeluaran secara bertahap/ per tahun, dan perusahaan dapat memperkirakan lebih akurat akan biaya-biaya tahun mendatang
6) Menyingkat waktu pengembangan, karena dapat bekerjasama dengan penyedia untuk menyediakan, memproses dan melakukan pemeliharaan serta pemulihan dari ganguan.
7) Dapat mengurangi penyedian sarana pada saat beban puncak/ order tinggi, dan cukup mengeluarkan biaya sesuai dengan tambahan layanan yang diberikan pihak ketiga
8) Memfasilitasi downsizing (transfer aplikasi mengunakan peralatan besar ke flatform yang lebih kecil), sehingga perusahaan tidak perlu memikirkan pengurangan pegawai
Kelemahan outsourcing:
1) Bisa terjadi kehilangan kendali terhadap aplikasi apabila ada ganguan perusahaan harus menghubungi pengembang terlebih dahulu dan pihak ketiga dapat menjual data ke pesaing
2) Sistem tidak mampu menangani permasalahan-permasalahan yang unik dalam perusahaan karena permasalahan berkembang terus menerus dan semakin kompleks sehingga perlu untuk modifikasi, belum tentu perusahaan dapat meminta pihak ketiga langsung memodifikasinya.
3) Bisa jadi terjadi kekawatiran soal keamanan, apabila perusahaan vendor melakukan penyalahgunaan seperti pembocoran informasi perusahaan
4) Mengurangi keunggulan kompetitif karena pihak ketiga dapat menjual ke perusahaan lain, sehingga dapat ditiru pesaing karena menjadi klien pihak ketiga yang sama
5) Menjadi ketergantungan terus menerus kepada pihak pengembang. Karena kode sumber seluruh program hak pihak ketiga sehingga sangat sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih sistem yang berjalan yang mengakibatkan perusahaan kehilangan keahlian dari belajar membangun dan mengopersikan aplikasi tersebut.
6) Ada kecenderungan out sourcer untuk merahasiakan sistem yang digunakan dalam menyusun dan mengembangan sistem informasi bagi pelanggannya.

DAPTAR PUSTAKA

Hartono, Jogiyanto.2003. Sistem Teknologi Informasi, Pendekatan Terintegrasi: Konsep dasar, Teknologi, Aplikasi, Pengembangan dan Pengelolaan. Penerbit Andi. Yogyakarta
Kadir, Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Penerbit Andi. Yogyakarta

LINK TERKAIT:
http://posmals.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/11/pengembangan-sistem-informasi-di-perusahaan-melalui-cosourcing-dan-outsourcing/#respond

3. Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi? Jelaskan!

Sistem Informasi adalah aplikasi komputer untuk mendukung operasi dari suatu organisasi yaitu: operasi, instalasi, dan perawatan komputer, perangkat lunak, dan data. Sistem Informasi Manajemen adalah kunci dari bidang yang menekankan finansial dan personal manajemen. SI dapat berupa gabungan dari beberapa elemen teknologi berbasis komputer yang saling berinteraksi dan bekerja sama berdasarkan suatu prosedur kerja (aturan kerja) yang telah ditetapkan, dimana memproses dan mengolah data menjadi suatu bentuk informasi yang dapat digunakan dalam mendukung keputusan. sebagai instrumen untuk mencatat, menghasilkan, mengolah, serta mendistribusikan informasi. Ahli-ahli di bidang ini memiliki kemampuan untuk memetakan kebutuhan informasi sebuah organisasi, dan menentukan cara terbaik teknologi informasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Selain penguasaan aspek teknologi informasi, sistem informasi juga harus memahami prinsip-prinsip manajemen dan bisnis. Sehingga pengembangannya harus berdasarkan kerangka bisnis dan manajemen, di samping penguasaan teknologi perangkat lunak dan perangkat keras komputer. Teknologi informasi dengan proses bisnis untuk memenuhi kebutuhan informasi bisnis dan usaha-usaha lain, yang memungkinkan tercapainya tujuan sebuah organisasi dengan efektif dan efisien.

Perangkat lunak (Software) tidak sama dengan program komputer. Perangkat lunak tidak hanya mencakup program, tetapi juga semua dokumentasi dan konfigurasi data yang berhubungan, yang diperlukan untuk membuat agar program beroperasi dengan benar. Sistem Perangkat Lunak terdiri dari : sejumlah program yg terpisah, file-file konfigurasi, dokumentasi sistem, dan dokumentasi User. Rekayasa perangkat lunak pada prinsipnya menekankan pada tahapan-tahapan pengembangan suatu perangkat lunak yakni : Analisis, Desain, Implementasi, Testing dan Maintenance. Pada tahap yang lebih luas Rekayasa Perangkat Lunak mengacu pada Manajemen Proyek pengembangan Perangkat Lunak itu sendiri dengan tetap memperhatikan tahapan-tahapan pengembangan sebelumnya.

Dalam pengembangannya perangkat lunak memiliki berbagai model yaitu model water fall (model konvensional sebagai model terdahulu yang dikembangkan dan karena model water fall nyaris sama dengan siklus hidup pengembangan sistem), model prototype (penyempurnaan prototype berdasarkan model yang disukai oleh user dan pengembang), model spiral (mengabungkan antara keuntungan model protyping dan model air terjun serta memasukan anlaisis resiko), model RAD (rapid aplication model), model formal method (metode formal) disini sebelum diadakannya implementasi terlebih dahulu rancangan model yang dibuat diverifikasi terlebih dahulu sehingga tidak ada lagi kesalahan – kesalahan pada saat implementasi.

Pengembangan software senantiasa menemukan inovasi baru di bidang ilmu komputer. Sebagai contoh, saat ini kita sudah mengenal baik fasilitas Internet dan World Wide Web. Saat ini, ilmuwan komputer menggunakan teknologi komputer untuk pengembangan robot yang cerdas, pemodelan DNA manusia, serta pembuatan program yang dapat memahami berbagai data dalam bentuk teks, gambar, suara, maupun video.
Untuk membangun suatu sistem informasi melalui proses penyusunan sistem, proses yang dimulai dari konsep sistem sampai dengan operasi sistem guna menganalisa fenomena disebut SDLC (system Development Life Cycle) atau siklus hidup pengembangan sistem. Dengan meningkatnya kebutuhan dan permasalahan bisnis, mendorong perusahaan untuk melakukan perubahan organisasi dan sistem informasi. SDLC merupakan metodelogi paling lama dalam pengembangan sistem, dengan mengunakan SDLC akan memakan waktu yang lama dan biaya yang mahal untuk melakukan tahapan pengembangan sistem. Beberapa permasalahan dapat dipecahkan melalui pengembangan sistem melalui prototyping dan paket sofware aplikasi.

Menurut O’brein (1990) SDLC terdiri dari lima tahap: 1). Investigasi sistem 2) Analisis sistem 3) Rancang Bangun 4) Implementasi sistem 5) Perawatan sistem. Diatambahkan bahwa metode prototyping merupakan pengembangan sistem yang cepat dan interaktif baik untuk aplikasi yang besar maupun kecil. Metode ini dapat diperlihatkan dan didemonstrasikan kepada penguna untuk dievaluasi. Dengan demikian penguna dapat menentukan kebutuhan-kebutuhan informasi yang lebih baik. Karena dengan adanya masukan dari penguna sehingga dapat dilakukan evaluasi dan validasi model kerja (prototype) sistem untuk disempurnakan dan menghasilkan prototipe yang lebih baik karena telah disempurnakan. Dua jenis prototyping yaitu 1) Discovery Prototyping; yaitu pembangunan didasarkan oleh analisa kebutuhan dengan analisis saja, penguna baru terlibat setelah prototipe telah dibentuk 2) Refinery prototyping, dimana sejak awal pembuatan penguna dilibatkan sehingga dihasilkan suatu sistem yang lebih handal karena berpartisipasi dalam pengembangan sistem.

Terdapat beberapa alasan pengembangan sistem metode prototipe lebih banyak digunakan, karena 1) Kebutuhan sistem dapat dirumuskan bersama-sama antara analis dengan pengguna 2) pengembangan jauh lebih cepat dan sesuai dengan kebutuhan penguna (Abutaman, 1996)

Pengembangan Sistem Informasi adalah proses bagaimana membangun dan mengintegrasikan solusi teknologi informasi dengan proses bisnis yang ada, sehingga suatu institusi bisnis akan dapat mencapai tujuannya dengan efektif dan efisien.

Pengembangan SI memiliki ciri : 1). Fokus pada teknik mengintegrasikan solusi teknologi informasi dengan proses bisnis agar kebutuhan organisasi akan informasi dapat terpenuhi. 2). Menekankan pada “informasi” sebagai sebuah sumber daya penting dalam berproduksi, terutama dalam kaitannya kebutuhan korporasi dalam pencapaian visi dan misi yang dicanangkan. 3). Mempelajari aspek penting bagaimana “informasi” diciptakan, diproses, dan didistribusikan ke seluruh pemangku kepentingan dalam institusi.

Sedangkan pengembangan software proses bagaimana merancang-bangun dan memelihara sebuah sistem software yang reliabel, efisien, efektif serta mudah dikembangkan dan dapat memenuhi kebutuhan dari kustomer atau pengguna. Pengembangan sofware memilki ciri ; 1). Fokus pada pengembangan model sistematis dan terpercaya, yang harus dipergunakan sebagai panduan dalam mengembangkan berbagai jenis perangkat lunak. 2). Selain perangkat lunak aplikasi, mencakup pula pengetahuan mengenai bagaimana membangun sebuah perangkat lunak sistem (system software) dan perangkat lunak penunjang (tool software). 3). Disamping itu dibekali pula akan ilmu yang terkait dengan seluk beluk infrastruktur di satu sisi, dan sistem informasi di sisi lainnya karena kedua komponen tersebut merupakan entitas penting yang berada dalam ruang lingkup pengembangan perangkat lunak.

DAPTAR PUSTAKA
Abutaman, U. 1996. Sistem Informasi Manajemen. Materi Kuliah. Universitas Trisakti Jakarta
O’Brien, J.A. 1990. Manajement Information System; Managing Information Technology in the Network Enterprise. Irwin. Boston. USA
Sutanta, Edi. 2003. Sistem Informasi Manajemen. Graha Ilmu. Yogyakarta

LINK TERKAIT:
http://sukasukarurru.multiply.com/journal/item/4

http://primadona.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/15/questions-1-perbedaan-pengembangan-software-dengan-pengembangan-sistem-informasi/

2. Jelaskan apa yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pengembangan maupun penerapan sistem informasi di suatu organisasi, dengan merujuk pada pendapat Rosemary Cafasaro.

Sistem informasi Manajemen terdiri dari berbagai subsistem informasi, terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang dapat mengola data menjadi informasi yang dapat digunakan meningkatkan produktivitas yang menyesuaikan dengan strategi yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak.

Sistem yang mempunyai kegunaan dan pengunaannya tinggi oleh setiap unit departemen menunjukan adanya keberhasilan pengunaan sistem informasi tersebut, adanya respon dari penguna (end-user) pada sistem tersebut mampu menberikan informasi tentang kebutuhan yang diperlukan sehingga kepuasan para penguna dapat dicapai. Selain itu keberhasilan pengembangan sistem dapat dilihat dari sikap yang menguntungkan para penguna sistem informasi dan staf dari sistem informasi tersebut. Tujuan dalam penerapan sistem informasi harus dapat ditetapkan dengan jelas termasuk perencanaan keuangan, karena pengembangan dan penerapan sistem informasi membutuhkan biaya yang mahal sehingga biaya yang diperlukan harus diupayakan mampu mengimbangi imbal balik terhadap perusahaan, serta menghindari biaya yang timbul akibat kegagalan pengembangan sistem.

Penerapan sistem informasi dalam perusahaan mampu memberikan subangsi bagi manjer berupa meringankan pekerjaan manajer yang dilakukan secara konvensional maupun menyediakan informasi untuk membuat laporan manajerial. keterlibatan user sangat diperlukan supaya sistem yang dikembangkan dapat memberikan kepuasan kepada user.

Sistem informasi yang dibangun mampu memberikan manfaat bagi perusahaan. Akan tetapi sistem informasi yang akan dibangun menghadapi berbagai tantangan, kerugian, dan kelemahan oleh karena itu perusahaan dapat mempelajari dan mengembangkan cara yang dapat digunakan untuk meminimalisasi keadaan tersebut.

Adanya kerumitan perencanaan, pengembangan, dan pelatihan yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem berbasis teknologi informasi dan komputer adalah sebagai hambatan. Oleh karena itu perlu dihindari ketidak mampuan dalam perencenaan proyek pengembangan, manajemen proyek (pematauan), kebutuhan manajemen, resiko manajemen dan serta perubahan pihak manjemen, agar tidak terjadinya kegagalan proyek sistem informasi. Agar sistem yang dibangun dapat bermanfaat, sistem informasi dibangun harus berdasarkan kacamata bisnis dalam perencanaan menyesuaikan dengan penentuan rencana strategi perusahaan yang ditentukan manajemen puncak.

Sistem informasi adalah kumpulan dari sistem manajemen atau sistem yang menyediakan informasi yang bertujuan mendukung operasi manajemen dan pengambilan keputusan dalam suatu organisasi. SIM cenderung berhubungan dengan pengolahan informasi yang berbasis komputer dengan mempertimbangkan informasi apa, untuk siapa, dan kapan harus disajikan. Sistem ini terpadu dalam mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Sistem ini mengunakan hardware, software, prosedur manuak, model manajemen keputusan, serta data base. Informasi yang dihasilkan oleh SIM merupakan sumberdaya yang tidak dapat dipisahkan dari sumberdaya lain dalam organisasi. Hal ini disebabkan karena SIM tergantung pada teknologi informasi yang digunakan dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai organisasi. Berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi tersebut, maka sim dianggap penting dalam menyediakan informasi yang lengkap tentang misi dan visi perusahaan serta relevansi visi dan misi itu dengan keadaan dan fenomena yang ada saat ini. Dengan demikian, SIM dipilih sebagai sarana organisasi untuk mencapai tujuan efisiensi dan efektifitas yang pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap keuntungan organisasi. Suatu SIM yang profesional adalah sistem informasi yang mampu menyajikan informasi secara tepat, cepat, aman dan akurat. Hal ini dpat terwujud dengan ditunjang oleh sumberdaya manusia yang profesional.(Marimin dkk, 2006)

Sistem informasi manajemen dapat didefenisikan sebagai sekumpulan subsistem yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan kerjasama dengan cara tertentu untuk melakukan fungsi pengolahan data (input-proses-outuput), dimana output berupa informasi untuk mengambil keputusan, mendukung kegiatan opersional, manajerial, dan strategis organisasi, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan tersedia bagi fungsi tersebut guna mencapai tujuan (Sutanta, 2003)

Menurut McLeod Jr (2004) Saat ini, para manjer memberikan perhatian yang semakin besar pada manajemen informasi karena dua alasan utama. Pertama, kegiatan bisnis telah menjadi semakin rumit. Kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik. Sistem informasi manajemen (SIM) adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

Ditambahkan bahwa sistem informasi perusahaan merupakan pengeluaran modal yang besar dan harus dievaluasi dengan cara yang sama seperti investasi besar lainnya. Untuk menghadapi tantangan dalam menentukan nilai sistem informasi perusahaan, perhatian khusus perlu diarahkan pada tiga jenis kelayakan yaitu kelayakan; ekonomis, teknis dan operasional. Kelayakan ekonomis (economic feasibility) berhubungan dengan pembenaran suatu pengeluaran dengan mempertimbangkan keuntungan dan biaya secara keuangan, sedangkan kelayakan teknis (technical feasibility) mempertimbangkan ketersediaan teknologi yang diperlukan. Kelayakan opersional (operational feasibility) mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di perusahaan itu untuk berhasil melaksanakan proses yang diperlukan. Kegagalan sistem informasi perusahaan mencangkup proyek yang ditingalkan sebelum penerapan atau diterapkan tetapi begitu gagal sehingga organisasi kembali ke sistem informasi yang dahulu. Namun kegagalan informasi perusahaan tidak berarti bahwa organisasi menyerah sepenuhnya. Organisasi tersebut dapat mencoba lagi. Organisasi dapat meminimalkan kemungkinan kegagalan dengan mengambil langkah-langkah; pertama, orang-orang yang bertangung jawab atas peerapan sistem harus mengerti akan kerumitan organisasi itu. Karena sistem informasi perusahaan mencangkup berbagai fungsi bisnis, para anggota harus memahami berbagai proses bisnis yang berinteraksi dengan mereka selain memahami proses mereka sendiri. Kedua, manajemen puncak harus menyadari bahwa spesialisasi didalam perusahaan yang memberi nilai tambah yang besar mungkin bukan kandidat untuk disertakan dalam EntIS.

Pengembangan Sistem Informasi Manajemen terdiri dari tiga tahapan; analisis sistem, perancangan sistem, dan implementasi sistem. Analisis sistem meliputi; (1) menentukan maslah utama dan lingkup kegiatan, (2) mengumpulkan fakta yang berhubungan dengan masalah, (3) menganalisa fakta-fakta, (4) menentukan laternatif pemecahan yang mungkin, (5) memilih alternatif pemecahan masalah, (6) pembuatan studi kelayakan meliputi kelayakan; ekonomi, teknik, hukum, jadwal, dan opersional, (7) laporan manajemen. Tahap perancangan sistem meliputi langkah; (1) rivew kebutuhan, (2) desain umum sistem/ desain logik, (3) desain terinci/ desain fisik, meliputi desain; input, proses, output, basis data, dan dialog desain, (4) laporan ke manajemen. Implementasi sistem, meliputi langkah; (1) review desain, (2) penjadwalan tugas pengembangan, (3) coding program, (4) testing program, meliputi; testing modul dan testing menyeluruh, (5) pelatihan tugas, (6) konversi sietem, (7) laporan manajemen (Sutanta, 2003),.

Beberapa faktor yang dapat mendukung kegagalan dalam penerapan sistem informasi dalam suatu perusahaan atau organisasi adalah tidak adanya; keterlibatan end user, dukungan manajemen eksekutif, adanya kejelasan pernyataan kebutuhan, perencanaan yang matang dan tepat serta harapan yang realistik terhadap penyusunan sistem informasi tersebut (Rosemary Cafasso dalam O’Brien, 2005).

Tidak adanya keterlibatan end-user dalam proses pengembangan dan penerapan Sistem Informasi dalam setiap tahap pengembangan dari perencanaan hinga ke pengembangan sistem informasi dapat menimbulkan kegagalan dalam pengembangan dan penerapan sistem informasi. Tidak diikut sertakan end user dalam proses tersebut akan menyebabkan perusahaan tidak dapat menilai dan meningkatkan desain yang ada untuk penyempurnaan sistem yang ada, selain itu perusahaan juga tidak dapat memonitor dan mengetahui apakah sistem yang digunakan sesuai kebutuhan saat ini, mengakibatkan perusaahaan tidak dapat mengevaluasi, melakukan perbaikan, dan memodifikasi sistem untuk meningkatkan kemampuan sistem sehingga sistem yang digunakan tidak efektif atau bahkan dapat ditingalkan penguna karena sudah tidak sesuai kebutuhan.

Kurangnya dukungan para eksekutif dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat akan memberikan akibat kegagalan. Adanya pihak manajemen tidak paham dengan informasi yang disampaikan dalam bentuk “grafik, chart, notasi” sehingga informasi yang dibangun dengan baik untuk membantu pekerjaan manajer, sebaik apapun akan diangap tidak akan ada gunanya. Karena pihak yang akan memetik manfaat atas keberhasilan sistem manajemen adalah pihak manajemen, jadi diperlukan kelompok dalam organisasi menjadikan sistem itu tetap hidup adalah hanya manajemen. Pihak manajemen yang tidak terlibat akan mengakibatkan sistem informasi yang dibangun tidak sesuai dengan strategi perusahaan, karena strategi perusahaan dirumuskan oleh para manajer, sehingga SI tidak dapat optimal dalam mendukung stategi bisnis perusahaan dalam meningkatkan keuntungan juga tidak dapat mendukung pekerjaan para manajer dalam mengambil keputusan. SI juga diperlukan Inovasi rutin dalam jangka panjang, jika tidak dilakukan pihak manajemen dari awal akan menyebabkan SI tidak akan dapat meningkatkan kegunaannya dalam memecahkan masalah manajemen yang menjadi semakin kompleks.

Sistem pengembangan SI tanpa manajemen yang tepat, besar kemungkinannya akan membawa konsekuensi kerugian sebagai berikut ; 1). Biaya yang dikeluarkan berlebihan sehingga dapat melampaui anggaran. 2). Pekerjaan melebihi waktu yang diperkirakan. 3). Kelemahan teknis yang berakibat pada kinerja yang berada dibawah tingkat dari yang diperkirakan. 4). Adanya kegagalan memperoleh manfaat yang diperkirakan.

Sistem yang dibangun tidak menyesuaikan dengan sistem yang dibutuhkan karena tidak lengkapnya peryataan kebutuhan dan spesifikasinya, serta kebutuhan dan spesifikasi yang terus berubah menyesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan pelangan. Akibatnya sistem yang dibangun memilki desain yang kurang memenuhi harapan karena; desain tidak cocok dengan struktur, budaya dan tujuan organisasi secara keseluruhan, data yang dihasilkan tidak cocok dengan harapan dan tujuan bisnis, biaya yang diperlukan terkadang diatas anggaran yang disediakan atau biaya lebih besar dari nilai guna yang diharapkan

Perencanaan yang tepat dalam mengimplementasikan sistem informasi juga harus diperhatikan. Perusahaan harus realistis dan cermat dalam merancang dan menerapkan sistem informasi dalam penentuan biaya yang wajar terhadap manfaat yang akan diperoleh, agar sistem informasi yang dihasilkannya akan memberikan keuntungan. Dalam perencanaan informasi dibutuhkan kejelasan kebutuhan perusahaan, sehingga pengembangannya berdasarkan sasaran pasar yang dibidik serta media yang sesuai digunakan. Agar SI yang dikembangkan dapat berjalan dan berfungsi dengan baik, maka diperlukan investigasi sistem yang mencakup aspek organisasi, teknis, operasional, ekonomi, dan kebutuhan pengguna. Perencanaan pembangunan SI yang memuat tentang TI direncanakan untuk pencapaian prioritas-prioritas SI, yaitu dengan melakukan definisi permasalahan dan identifikasinya secara rinci mulai dari definisi permasalahan yang dihadapi seperti penciptaan alur data dan informasi yang efisien, prosedur transaksi dan penyajian informasi secara komunikatif pada layer monitor, selanjutnya perlu dirumuskan tentang kasus-kasus bisnis yang ingin diselesaikan dan total investasi TI yang akan disediakan.

Setelah itu perlu disusun rencana aksi yang konkret termasuk perencanaan perangkat keras, aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan, pembangunan fasilitas fisik, melatih pemakai (operator/ konsumen) dan penyebarannya.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan pengembangan dan penerapan sistem informasi berupa; Keterlibatan dan pengaruh pengguna, baik penguna dalam organisasi maupun penguna diluar perusahaan untuk menilai keberadaan sistem informasi yang ada sehingga memudahkan evaluasi dan perbaikan. Dukungan manajemen eksekutif diperlukan dari keterlibatan proses perencanaan pengadaan sistem informasi, pengunaan sistem, pemeliharaan sistem, sampai dengan pengembangan sistem yang menyesuaikan perubahan strategi perusahaan. Adanya kejelasan pernyataan kebutuhan memudahkan bagi pihak pengembang dalam menetapkan sistem yang tepat bagi strategi perusahaan. Perencanaan yang matang dan tepat serta harapan yang realistik terhadap penyusunan sistem informasi tersebut, hal ini diperlukan dari perencanaan biaya yang digunakan dengan manfaat yang dapat, sumberdaya informasi tersedia dengan baik dan cukup, sehingga sistem yang dibangun tidak memiliki kendala yang berarti, serta mampu mencapai tujuan strategis perusahaan untuk meningkatkan daya saing kompetitif.

DAPTAR PUSTAKA

Marimin, Hendri Tanjung, Haryo Prabowo. 2006. Sistem Informasi Manajemen; Sumber Daya Manusia. PT Grasindo. Jakarta
McLeod Jr Raymond, George Schell.2004. Management Information Systems 8/e. Prentice-Hall, Inc. New Jersey
O’Brien. J. 2005. Pengantar Sistem Informasi Perspektif Bisnis dan Manajerial. Edisi 12. Salemba Empat. Jakarta.
Sutanta, Edhy. 2003. Sistem Informasi Manajemen. Graha Ilmu. Yogyakarta

LINK TERKAIT:
http://allandrewsmind.blogspot.com/2010/08/konsep-membangun-sistem-informasi.html

http://itkelinik.com/?p=113&cpage=1#comment-696

1. Bagaimana suatu perusahaan menggunakan sistem informasi untuk menunjang strategisnya!

Sistem informasi manajemen yang telah dikembangkan bertujuan untuk menyediakan fungsi-fungsi operasional dan mendukung keputusan manajemen dengan menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh pembuat keputusan untuk merencanakan, mengontrol kegiatan perusahaan. SIM bertanggung jawab dalam menyediakan informasi untuk seluruh manajer perusahaan dalam bentuk laporan berkala, laporan khusus, dan keluaran bentuk matematika. Para manajer di semua ditiap departemen dapat menerima keluaran ini, yang sebagian besar dihasilkan dari gabungan data Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang ada. Sistem informasi Manajemen mempunyai subsistem berupa Sistem Informasi Bisnis adalah subsistem dari sistem informasi manajemen yang bertujuan untuk mengumpulkan, memproses, dan menghasilkan informasi yang berhubungan dengan transaksi-transaksi keuangan.
Perencanaan strategis prusahaan merupakan perencanaan jangka panjang yang mengidentifikasi tujuan-tujuan yang akan memberi posisi paling menguntungkan bagi perusahaan dalam lingkungannya, serta menentukan strategi pada manajemen tingkat atas untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Semua perenanaan strategis area ungsiaonal harus bekerjasama dalam proses perecanaan strategis mereka. Pengembangan jasa informasi dan strategi bisnis dan rencana strategis perusahaan dikembangkan secara bersama-sama. Rencana strategis perusahaan mencerminkan dukungan yang dapat disediakan oleh jasa informasi, dan rencana strategis jasa informasi mencerminkan kebutuhan dukungan sistem dimasa depan
Pada tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an, perusahaan multinasional besar melakukan pembangunan sistem informasi global mereka (GIS/ Global Information System). Pada tahun 2000-an, kurang lebih 2070 perusahaan multinasional akan didorong untuk memperbaiki aplikasi sistem informasi dan bentukan arsitektur sistem ini. Sistem yang mulanya dirancang untuk mendukung operasi yang tersentralisasi ataupun tidak tersentralisasi akan ditingkatkan untuk memampukan perusahaan induk dan cabangnya beroperasi sebagai sebuah koordinat suatu sistem yang terintegrasi. Adapun hal yan perlu ditingkatkan dan diintegrasikan secara utuh dalam pematangan sistem informasi dunia adalah peranan sistem informasi berbasis komputer (Computer Based Information System/ CBIS). Beberapa industri raksasa seperti Samsung, Siemens, Sony, Carrefour, Suzuki dan Microsoft memiliki pusat dunianya secara global (global focus). Seperti halnya Siemens yang selalu melihat wilayah pasaran yang potensial sebagai fokus dunia global.
Strategi bisnis bisnis global membatasi kendali di bawah perusahaan induknya. Produk untuk seluruh pasaran dunia globalnya dibuat secara terpusat dan dikirimkan ke cabang-cabangnya. Aliran produk dan informasi di antara perusahaan induk dan cabangnya bergerak dalam satu arah menuju cabang. Sistem informasi dari strategi ini menempati kapasitas terbesar di lokasi induk dan menonjolkan sentralisasi pada basis data dan proses.
Strategi bisnis multinasional merupakan perpaduan kendali yang bersifat sentralisasi dari strategi dunia global dan kendali yang desentralisasi dari strategi multinasional. Dalam penerapan sistem ini, kelompok manajemen di perusahaan induk lebih mengetahui dan terampil dalam memasuki pasaran dunianya. Cabang-cabang menggunakan keahlian mereka untuk menyesuaikan produk, proses, dan strategi kepada pasaran mereka masing-masing bedasarkan kelompok manajemen yang telah ditetapkan. Perusahaan yang mengikuti strategi bisnis ini menjalankan sistem antar organisasi yang menghubungkan basis data dan proses dari induk dengan cabang-cabangnya.
Strategi bisnis antarnegara, yang dikenal pada tahun 1980-an. Dimana, Perusahaan induk dan seluruh cabang bekerja sama dalam merumuskan strategi dan mengoperasikan kebijakan dan mengkoordinasi logistik untuk menempatkan produk pada pasaran yang tepat. Perusahaan induk memantau pencapaian yang dapat diraih melalui penggabungan bisnis global untuk efisiensi, namun tetap memberikan keleluasaan pada tingkat lokal operasi perusahaan cabang. Perusahaan yang menerapkan strategi ini melakukan penggabungan pada sistem informasinya dengan mengikuti standar yang digunakan pada skala internasional bersamaan dengan rancangan sistem informasi pada umumnya. Strategi ini menempatkan tanggung jawab yang besar pada pengelola basis data untuk memastikan bahwa rancangan basis data perusahaan lazim digunakaan di seluruh dunia.

Hubungan antara Sistem Informasi dengan Strategi Bisnis
1. Para eksekutif perusahaan secara bersama dapat memperoleh penjelasan mengenai pengaruh yang mungkin terjadi pada sistem informasi dunia dalam strategi bisnis.
2. Memahami masing-masing unit usaha dalam strategi bisnis.
3. Menentukan siasat sistem informasi yang tepat untuk masing-masing unit strategi.
4. Mengenali pentingnya aplikasi untuk mencapai masing-masing siasat sistem informasi dan memprioritaskan penerapannya.
5. Menetapakan tanggung jawab untuk menerapkan aplikasi.

Strategi sistem informasi (SI) dibangun sesuai dengan strategi perusahaan. Pada awalnya SI diposisikan sebagai alat bantu untuk mengintegrasikan data dan meningkatkan kualitas informasi semata, maka saat ini SI telah menjadi strategi bisnis yang hebat. Dengan adanya SIM dapat membuat keputusan yang dapat meningkatkan value bagi perusahaan dapat di putuskan dengan cepat, tepat dan aman dan akurat, agar dapat menghadapi persaingan yang semakin kompleks saat ini. Pemanfaatan SI yang berbasis teknologi informasi dihampir semua bidang usaha bisnis merupakan salah satu strategi untuk menjawab tekanan atau amsalah yang dihadapi perusahaan, manfaat yang didapat perusahaan dengan pembangunan SI dapat bermanfaat untuk;
1. Integrasi data dan Informasi, dengan SI memungkinkan perusahaan mengintegrasikan data dengan baik baik berupa data setup, maupun data transaksi yang dilakukan dari berbagai terminal dalam lingkungan jaringan di perusahaan. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk membuat laporan manajerial yang dapat digunakan untuk merencanakan, pengorganisasian, dan pengontrolan terhadap kinerja perusahaan secara unit, maupun keseluruhan.
2. Pengorganisasian data memungkinkan sistem bebas redundasi data, dengan adanya sfasilitas sistem informasi bahaya duplikasi data dapat dihindari, data menjadi konsisten, sehingga dapat dipakai bersama disetiap departemen.
3. Meningkatkan kecepatan dan keakuratan penyusunan laporan manajerial, dengan adanya SI manajer dapat mengumpulkan data yang cepat dan akurat, yang dapat digunakan untuk mengolah mereka untuk membuat laporan manajerial.
4. Meningkatkan kualitas produk dan kecepatan layanan. Daya saing perusahaan dipengaruhi oleh kualitas produk dan keputusann yang lebih baik, kecepatan layanan, dan harga yang murah. Semua ini dapat ditingkatkan dengan pembangunan SI, dengan SI semua lini perusahaan (terutama bagian produksi dan persediaan) mendapatkan informasi yang cepat mengenai produk sehingga apabila produk rusak atau mutu kurang baik dapat dilakukan perbaikan ulang atau diafkir. Kecepatan layanan dapat diperoleh dengan waktu yang singkat diperoleh oleh konsumen dalam mendapatkan pelayanan tentang informasi yang dibutuhkan.
5. Efisiensi biaya dan waktu. Pemanfaatan SI yang digunakan seoptimal mungkin akan menurunkan pengeluaran biaya perusahaan dengan pemanfaatan sumber daya teknologi, serta meningkatkan produktifitas perusahaan dengan cepatnya waktu pelayanan.
6. Meningkatkan citra perusahaan. SI dapat meningkatkan citra perusahaan dari susut staf maupun pihak eksternal perusahaan. Karena layanan konsumen yang cepat, dan karyawan menjadi cukup ringan dalam mengelolah transaksi yang terjadi. Kepercayaan masyarakat akan meningkat dan akan mendorong pembelian kembali dari produk perusahaan.

Sistem informasi untuk menunjang kegiatan strategis berbeda dengan SI konvensional, seperti; 1). Dukungan; SI secara konvensional untuk mendukung manajer menyelesaikan masalah kritis, sedangkan SI strategis untuk mendukung manajer dalam menerapkan strategi. 2). Fokus, SI konvensional mengunakan teknologi untuk kepentingan manusia, sedangkan SI stratejik sebagai alat atau senjata kompetisi. 3). Tujuan, SI konvensional lebih untuk pengurangan biaya (efisiensi), SI stratejik untuk memenangkan persaiangan. 4). Orientasi, SI konvensional berientasi ke aplikasi internal, sedang SI stratejik orientasi baik internal maupun eksternal untuk menjangkau konsumen.
Jadi perusahaan yang mengunakan SI untuk tujuan strategis dapat diartikan sebagai perusahaan yang memilki Sistem Informasi Stratejik (SIS) didefinisikan sebagai sistem yang terdiri dari sistem-sistem teknologi informasi apapun di level manapun yang dapat digunakan untuk menerapkan strategi perusahaan. Perusahaan yang menyelaraskan antara pengunaan teknologi informasi yang dapat mendukung dan melaksanakan atau mengimplementasikan satu atau lebih strategi kompetisi sebagai berikut :

1. Cost leadership strategy
Sistem informasi yang mendukung strategi ini adalah perusahaan sebagai produsen dengan biaya terendah dengan cara; menurunkan biaya dalam proses bisnis melalui rekayasa proses bisnis, menurunkan biaya dari pemasok, menurunkan biaya ke pelangan. Perusahaan yang menerapkan strategi ini misalnya; perusahaaan J. B. Hunt, yang mengunakan komputer yng dihubungkan dengan pasar komoditi bensin untuk memonitor harga bensin dan membeli pada saat harga bensin rendah. Perusahaaan Roadway express (memiliki pompa bensin), bisa membandingkan harga-harga yang ditawarkan oleh pemasok dan membeli yang terendah, demgan memanfaatkan komputer. 7-eleven (prusahaan ritel di amerika) berinvestasi sampai $200 juta untuk menemukan keinginan pelangan, dan menentukan produk yang harus disediakan di toko, perusahaan menerapkan pemajangan produk secara bergantian tiap jam, untuk menghemat tempat yang sewanya yang mahal di Jepang, sehingga menghemat biaya dan menghasilkan laba yang sangat besar. Caterpilar Company (perusahaan alat-alat berat), pernah kalah bersaing dengan perusahaan Jepang Komatsu yang dengan harga lebih murah 40%, namun dengan biaya $2 milyard, membangn serat optik untuk mengunakan satelit, untuk menerapkan sistem informasi eksekutif yang dapat menganalisa data, trend dan evalausi kinerja dialer dan pemasok-pemasok, teleconference , CIM (robot, CAD, CAM) dibeberapa pabrik, MRP II dan sistem pembelian dan logistik. Penerapan ini mampu menghemat biaya sediaan dalam proses sampai 60% (sampai jutaan dollar), waktu pemesanan turun dari 40 hari menjadi 10 hari, pengiriman tepat waktu meningkat sampai 70%, sehingga perusahaan dapat memenangkan pangsa pasar sampai 30%.

2. Diferentaiation strategy
Sistem informasi mendukung strategi ini mampu menyediakan produk/ jasa yang berbeda atau unik dengan nilai yang lebih besar kepada pelangan dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya dengan cara; mengunakan teknologi informasi untuk membuat produk/ jasa berbeda, mengunakan teknologi informasi untuk mengurangi keuntungan diferensiasi pesaing. Perusahaan yang mengunakan strategi ini misalnya Digital Equipment Corporation (DEC) dengan mengunakan sistem pakar mengunakan X-Con untuk mengkomfigurasi sistem komputer berdasarkan pesanan pembeli yang memiliki selera yang berbeda.

3. Focus strategy
Sistem Informasi yang mendukung strategi ini dapat membantu perusahaan memfokuskan produk/ jasa disuatu niche market khusus. Misalnya pada perusahaan Domino’s Pizza yang memfokuskan kepada penjualan Pizza dikirim tepat waktu; kurang dari 15 menit jika lebih akan gratis, dengan bekerja sama dengan AT&T yang mengurus telepon yang masuk dengan menidentifikasi otomatis telepon yang masuk, alamat yang diteuskan ke toko Domino’s Pizza yang paling dekat dengan penelpon, yang membutuhkan waktu 7-11 detik. Pihak toko mengetahui nomor telepon tersebut berdasarkan caller’s ID dan mengetahuim alamat pemesan dari basis data di komputer, sehingga dapat mengirimkan pizza secepat mungkin.

4. Inovation strategy
Sistem informasi yang mendukung strategi ini mampu mendukung perusahaan untuk menemukan produk/ jasa terbaru dibandingkan pesaingnya dengan cara; membuat market baru dengan mengunakan teknologi informasi, misalnya kerjasama Merill Lynch bekerjasama dengan Bank One untuk menghasilkan produk inovasi berupa Cash Manajement account (CMA) dengan program ini nasabah pasar modal dan pasar uang dapat mengetahui laporan keuangan mereka sendiri, membuat cara baru menjual produk dan jasa yang melibatkan teknologi informasi, misalnya McKesson Drug Company mengunakan sistem order elektronik (disebut Economost), yang memungkinkan apotik atau toko obat memesan lewat fax, telepon maupun online, sehingga peneremiaan order berlangsung cepat dan dapat diandalkan, dan mengurangi tenaga kerja bagian pemesanan, serta meningkatkan loyalitas pelangan karena hemat waktu, baiaya akurasi, biaya kenyamanan dan baiaya pulsa yang lebih murah.

5. Aliancy strategy
Sistem informasi strategi ini mampu membuat hubungan kerjasama yang menguntungkn dengan pemasok, perusahaan lain dan bahkan dengan pesaing-pesaingnya dengan cara; mengunakan sistem informasi anatar organisasi untuk menghubungkan dengan sistem-sistem informasi perusahaan lain. Misalnya perusahaan 7-eleven Jepang bekerjasama dengan pemasok-pemasok dan lainnya.

6. Growth Stretegy
Sistem informasi ini dapat mendukung perusahaan membantu dan mengembangkan divesifikasi pasar, misalnya Citicorp yang mengunakan ATM pertama kali di kota New York untuk mendapatkan nasabah baru.

7. Quality Strategy
Sistem informasi yang mendukung strategi ini dapat meningkatkan kualitas dari produk/ jasa dengan cara; mengunakan robot, CAM atau CIM untuk meningkatkan kaulitas produk, mengunakan teknologi informasi untuk peningkatan berkelanjutan dari produk. Perusahaan yang menerapkan cara ini misalnya Caterpilar Company (CAT).
Dengan demikian pemanfatan SI dapat meningkatkan daya saing atau kinerja perusahaan (tercapainya tujuan sebuah organisasi dengan efektif dan efisien) dengan memanfaatkan sumberdaya informasi untuk mencapai keungulan kompetitif, karena pemanfaatan sumber daya teknologi selain dapat meningkatkan; kecepatan (pengolahan data data pelayanan), keakuratan, efisiensi, dapat juga untuk meningkatkan produktifitas perusahaan, diferensiasi produk atau layanan, dapat melayani pasar khusus konsumen tertentu, dapat melakukan inovasi, memungkinkan kerjasama antar perusahaan, menumbuhkan pasar baru dan meningkatkan kualitas produk atau jasa. sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan, pengurangan biaya-biaya dan loyalitas konsumen.

DAPTAR PUSTAKA

Hartono, Jogiyanto. 2003. Sistem Teknologi Informasi, Pendekatan Terintegrasi: Konsep Dasar, Tekonologi, Aplikasi, Pengembangan dan Pengelolaan. Penerbit Andi. Yogyakarta
Sutedjo, Budi. 2002. Perencanaan & Pembangunan Sistem Informasi.Penerbit Andi. Yogyakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Informasi_Dunia#Hubungan_antaraSistem_Infor-masi_Dunia_dengan_Strategi_Bisnis

LINK TERKAIT: http://kumpulantugasekonomi.blogspot.com/2010/02/bagaimana-organisasi-memanfaatkan.html

http://mulydelavega.blogspot.com/2009/06/pilihan-mekanisme-perancangan-sistem.html

CIA atau Central Intelligence Agency, agen rahasia milik Amerika mempublikasikan dalam situs resmi mereka www.cia.gov tentang The World Factbook yang memuat data-data dan fakta seluruh Negara di dunia termasuk Indonesia.
Diam-diam atau terang-terangan, tenyata CIA telah mengumpulkan data-data mengenai sebuah Negara yang meliputi geografi kependudukan, pemerintahan, ekonomi, politik bahkan hingga militer. Koq bisa ya?
Daripada pusing mencari tahu apakah memang CIA diberi kebebasan untuk mengumpulkan data-data tersebut dari Negara bersangkutan, ada baiknya kita lihat data-data mengenai Indonesia yang tercatat di situs tersebut. Sebab menarik untuk di simak misalnya ternyata usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 70,76 tahun dengan peringkat nomor 137 dunia atau jumlah penderita HIV/AIDS adalah 0,2 % dari jumlah penduduk yang menduduki peringkat 99 dunia. Sedangkan belanja pendidikan Indonesia hanya menduduki peringkat 127 dunia.
Terlepas sahih tidaknya data tersebut serta bagaimana caranya CIA mendapatkannya, mari kita periksa data-data tahun 2009 berikut ini :
Negara Indonesia : Sebuah Negara kepulauan dengan 17.508 pulau dan 6.000 diantaranya tidak berpenghuni.
Data Penduduk :
Populasi : 240.271.522 jiwa (per Juli 2009) –> Peringkat 5 Dunia
Struktur Umur :
0-14 tahun : 28,1% (laki-laki 34.337.341/perempuan 33.162.207)
15-64 tahun : 66% (laki-laki 79.549.569/perempuan 78918.321)
65 tahun ke atas : 6% (laki-laki 6.335.208/perempuan 7.968.876) – data 2009
Umur Rata-rata :
Total : 27,6 Tahun
Laki-laki : 27,1 Tahun
Perempuan : 28,1 Tahun
Pertumbuhan Jumlah Penduduk :
1,136 % pertahun –> Peringkat 117 dunia
Rasio Kelahiran :
18,84 kelahitan / 1000 penduduk –> Peringkat 108 dunia
Rasio Kematian :
6,24 kematian / 1000 penduduk –> Peringkat 154 dunia
Rasio Jenis Kelamin :
0 tahun : 1,05 laki-laki/perempuan
Di bawah 15 tahun : 1,03 laki-laki/perempuan
15 – 64 Tahun : 1,01 laki-laki/perempuan
65 tahun ke atas : 0,8 laki-laki/perempuan
Total populasi : 1 laki-laki/perempuan
Rasio Kematian Bayi :
Total : 29,97 kematian / 1000 kelahiran -> Peringkat 74 dunia
Laki-laki : 35,93 kematian / 1000 kelahiran
Perempuan : 24,77 kematian / 1000 kelahiran
Usia Harapan Hidup :
Total Populasi : 70,76 Tahun –> Peringkat 137 dunia
Laki-laki : 68,26 Tahun
Perempuan : 73,38 Tahun
Penderita HIV/AIDS :
0,2 % –> Peringkat 99 dunia
ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) :
270.000 jiwa (data 2007) –> Peringkat 25 dunia
Kematian akibat HIV/AIDS :
8.700 jiwa (data 2007) –> Peringkat 36 dunia
Wabah Penyakit Umum :
Derajat Resiko : Tinggi
Wabah penyakit : chikungunya, demam berdarah, malaria
Suku Bangsa :
Jawa 40.6%, Sundae 15%, Madura 3.3%, Minangkabau 2.7%, Betawi 2.4%, Bugis 2.4%, Banten 2%, Banjar 1.7%, lainnya 29.9% (sensus tahun 2000)
Agama :
Muslim 86.1%, Protestant 5.7%, Roma Katholik 3%, Hindu 1.8%, lainnya 3.4% (sensus tahun 2000)
Belanja Pendidikan :
3.6% dari GDP (2006) –> Peringkat 127 dunia
Kira-kira akurat tidak ya data di atas? Sayang CIA tidak mencantumkan berapa sebenarnya jumlah DPT yang berhak ikuty pilpres 2009 …. 🙂
Perhatikan juga jumlah 17.508 pulau di Indonesia sungguh angka yang fantastis, mungkin cuma Indonesia yang punya pulau sebanyak itu di dunia. Jadi ingat kasus Ambalat, apakah nantinya CIA juga harus mengurangi jumlah tersebut jika nantinya Ambalat terlepas dari pangkuan Indonesia? (terima kasih koreksi dari massss admin…. ambalat memang bukan pulau, dan CIA pastinya juga tidak menghitung ambalat di dalam jumlah tersebut 🙂 )
Mengenai data-data lain seperti data militer, ekonomi, transportasi, telekomunikasi dan isu-isu negara tidak Pimpii tampilkan karena khawatir dianggap membocorkan rahasia negara. Walaupun ternyata CIA telah mempublikasikannya secara terbuka.
http://terselubung.blogspot.com/2009/07/data-data-penduduk-indonesia-menurut.html

MetroTV
Selasa, 7 Desember 2010 09:36 WIB

Secara historis-politis, cukup validkah kita mempertentangkan antara Barat dan Islam? Pertanyaan inilah yang secara provokatif namun logis dibahas oleh Graham E. Fuller dalam karya terbarunya A World Without Islam (2010). Fuller yang sekarang menjadi Profesor sejarah di Simon Frase University (Canada), pernah menjadi orang penting di lingkaran CIA, sehingga memiliki data lapangan yang kaya dan ketajaman analisis sebagai sosok akademisi.

Menurut Fuller, tanpa kehadiran Islam pun sesungguhnya Barat dan Timur Tengah sejak berabad-abad yang lalu sudah terlibat konflik dan peperangan. Abad lalu jika disebut Barat berarti Eropah. Tetapi sekarang simbol kekuatan Barat direbut oleh Amerika Serikat. Namun, sesungguhnya sentimen dan akar konflik serta perebutan hegemoni regional dan agama antara Barat dan Timur Tengah sudah berlangsung berabad-abad. Bahkan itu terjadi di lingkaran Kristen sendiri, baik konflik antara Protestan dan Katolik yang berdarah-darah maupun antara Katolik Roma dan Katolik Timur Tengah. Bukankah ketiga agama yang selalu terlibat konflik – Yahudi, Kristen dan Islam – semuanya lahir di kawasan Timur Tengah?

Fuller menulis: In today’s world, “Islam” has become the bumper sticker for America, the default cause of many of our problems in the Muslim world. In the past we have gone in to do battle with anarchists, Nazis, Facists, communists – today it is “radical Islam” (hal 8). Bagi AS, Islam dikonstruksi sedemikian rupa sebagai sasaran tembak untuk melakukan konsolidasi kekuatan Barat dalam upaya menguasai dan menjarah sumber alam Timur Tengah. Sementara bagi negara-negara Timur Tengah Islam dijadikan perekat untuk melakukan perlawanan terhadap Barat. Padahal, posisi Islam hanyalah komplementer saja yang datang belakangan. Tanpa Islam persaingan Barat versus Timur Tengah akan tetap berlanjut, yang sekarang ini Timur-Tengah dalam posisi kalah.

Lagi-lagi Fuller mengingatkan, Actually, in many senses there is no “Muslim world” at all, but rather many Muslim worlds, or many muslim countries and different kinds of Muslims. Jadi, yang namanya “dunia Islam” sebagai sebuah entitas politis-ekonomis secara solid dan kohesif sesungguhnya tidak ada, sebagaimana juga tidak ada yanga nama “Barat” yang tunggal. Secara politis dan ekonomis negara-negara Muslim mempunyai agenda dalam negerinya masing-masing dan bahkan mesti dibayar dengan perang untuk mempertahankan kepentingan komunalisme regional dan indetitasnya.

Konflik yang terjadi antara Syria, Irak, Iran, Saudi Arabia dan Mesir hanyalah kelanjutan persaingan etnis dan regional jauh sebelum Islam datang. Begitu pun persaingan antara Gereja Roma, Konstantinopel dan Orthodoks Timur yang berpusat di Syria dan Palestina sudah berlangung ratusan tahun. Kemuliaan agama selalu saja tercoreng dan terkooptasi oleh negara yang secara laten berambisi memenuhi nafsu kekuasaan politik dan ekonominya.

Meski Kristen lahir di wilayah Arab, agama ini berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Namun, sengketa dan klaim mazhab atau sekte tidak pernah hilang. Beberapa sekte Kristen orthodoks Timur yang menggunakan Bahasa Arab dan Yunani mengklaim dirinya paling dekat dengan tradisi Yesus. Namun, mereka sadar sebagai pihak yang kalah dalam persaingan politik dan ekonomi dengan sekte Kristen yang berkembang di Barat. Klaim sebagai komunitas paling dekat dengan tradisi Islam yang otentik juga dikembangkan oleh masyarakat Muslim Saudi Arabia, sehingga memandang umat Islam non-Arab seperti Turki dan Indonesia sebagai umat Islam pinggiran (pheriperal).

Meski dikenal sebagai kantong umat Islam terbesar, Islam Indonesia dianggap rendah kadar keislamannya. Di lingkungan masyarakat Barat pun baru belakangan ini semakin tahu Indonesia sebagai “the largest muslim country”, terutama setelah Barack Obama menjadi Presiden AS yang belum lama ini berkunjung ke Indonesia dan pidatonya diikuti oleh rakyatnya. Dunia baru tahu bahwa ternyata di Indonesia demokrasi dan Islam tidak perlu dipertentangkan.

Adapun peristiwa terorisme yang mengatasnamakan Islam memang kenyataan yang tidak bisa dibantah. Namun, sungguh ceroboh kalau kasus ini digeneralisasi untuk memberi lebel dunia Islam. Di satu sisi, radikalisme dengan simbol keagamaan dimunculkan oleh para militan Islam untuk meraih dukungan secara massif, namun di sisi Barat simbol ini sengaja digunakan untuk menciptakan musuh baru setelah komunis ambruk. Di dunia ini begitu banyak pemerintah yang sah yang semula oleh lawan politiknya, yaitu imperialis Barat, dianggap teroris. Jadi, menyebut “Dunia Islam” sebagai satu entitas politik, ekonomi dan kebudayaan perlu dipertanyakan kesahihannya.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta

05/12/2010 13:15Liputan6.com, Jakarta: Kehilangan tujuh anggota keluarganya karena penyakit kanker membuat Adi Kharisma tertantang mencari solusi pencegah kanker. Pada 2006, ia menemukan ubi ungu yang berserat alami dan kadar antosianin yang tinggi untuk menyerap racun sekaligus membunuh sel kanker.

Adi tak menyimpan sendiri temuannya. Ia mengolah beragam makanan dari ubi ungu untuk dijual dalam bentuk menarik seperti es krim, burger, sate, hingga bakpao. Karena temuannya, pria berusia 51 tahun ini kerap menjadi pembicara seminar dan konferensi internasional tentang makanan sehat di antaranya di Italia, Jepang, dan Cile.

Gerai makanan olahan ubi juga tersebar di Jakarta dan Bali. Sehat sudah pasti, rasanya? Ternyata, banyak orang yang menggemari ubi ungu ini karena rasanya yang manis. Buat menjaga kualitas ubinya, Adi menanam sendiri bibit ubi dari Jepang di lahan seluas satu hektare di daerah Badung, Bali.

Kendati telah mendapat pengakuan di dunia internasional, Adi justru berharap ubi ungu mendapat tempat di Tanah Air. Agar lebih banyak orang yang merasakan manfaat ubi, Adi berencana membuka gerai di Jepang dan Amerika.(BJK/ANS)

Akibat kejatuhan perdagangan dunia selama depresi besar tahun 1930an, beberapa negara menetapkan kebijakan penghambatan import, mendevaluasi mata uang, pembatasan kepemilikan valuta asing, namun hal itu tidak mampu mempertahankan keunggulan kompetitif masing-masing negara bahkan mengangu perdagangan internasional beberapa negara. Ketika perang dunia ke II berakhir, Negara sekutu memiliki rencana untuk membangun ketertiban dan hubungan moneter internasional, melalui konfrensi Bretton Woods terbentukla IMF. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) adalah organisasi internasional yang bertanggungjawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah keseimbangan neraca keuangan masing-masing negara. IMF dicetuskan pada saat konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat bulan Juli 1944, yang dihadiri 45 negara yang dirancang untuk menghindari kebijakan ekonomi yang buruk pada tahun 1930. Setelah perang dunia kedua, tanggal 27 Desember 1945 melalui konfrensi Bretton Woods yang menyepakati perjanjian dalam pengawasan sistem moneter internasional dan mempromosikan penghapusan pembatasan pertukaran valuta asing karena perdagangan barang/jasa, dan stabilitas nilai tukar yang ditandatangani tahun oleh 29 negara. (http://www.imf.org)

Salah satu misinya IMF adalah membantu negara-negara yang mengalami kesulitan ekonomi yang serius, dan sebagai imbalannya, negara tersebut diwajibkan melakukan kebijakan-kebijakan tertentu, misalnya privatisasi badan usaha milik negara. Menurut Ball dkk (2004) tujuan secara umum didirikan sejak waktu pendiriannya sampai sekarang IMF adalah membantu perkembangan untuk :
1. Tertib pengaturan devisa
2. Memonitor kebijakan nilai tukar uang negara anggota
3. Mempersingkat masa dan mengurangi derajat ketidak seimbangan neraca pembayaran

Saat ini anggota IMF berjumlah 187 negara, dimana Negara kecil di Asia Fasifik yaitu Tuvalua adalah negara yang baru bergabung untuk terjadinya kerjasama multilateral dan internasional ditengah dinamika ekonomi global. Adapun negara-negara anggota PBB, yang tidak menjadi anggota IMF adalah Korea Utara, Kuba, Liechtenstein, Andorra, Monako, Tuvalu dan Nauru. Adanya perdagangan internasional dan integrasi pasar internasional menyebabkan adanya hubungan erat antara perekonomian suatu negara terhadap negara lain, sehingga apabila terjadi krisis ekonomi suatu negara cenderung menular kenegara lain karena terintegrasinya perdagangan dan saling ketergantungan.

Indonesia pada tahun 1953 telah menjadi anggota IMF dan Bank Dunia yang disyahkan melalui Undang-undang No. 5 Tahun 1954 tertanggal 13 Januari 1954. Selama pemerintahan Soekarno saat mengalami krisis tahun 1950-an dan tahun 1960-an Amerika Serikat dan Bank Dunia melobi untuk menawarkan pinjaman besar kepada Indonesia. Akan tetapi pemerintahan Soekarno melihat bahwa IMF dan Bank Dunia terutama terhadap negara-negara yang sedang berkembang hanyalah menjadi alat dari kaum kapitalis, sehingga menolak bantuan tersebut lewat rapat akbar di Jakarta dengan seruan ”Go to heal with your aid”.
Melalui Supersemar-lah IMF, Bank Dunia, Freeport, Exxon, Caltex, Total, Halliburton, Betchell, Toyota dan korporasi asing lain menguasai sumber-sumber kekayaan alam strategis dari hutan, minyak, bauksit, tembaga hingga emas. Terlebih setelah konferensi Jenewa pada November 1967 dan pemerintah Soeharto telah mengesahkan UU 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Undang-undang ini memberikan masa bebas pajak 5 tahun bagi investor asing dan keringanan pajak selama 5 tahun berikutnya.
Kontrol terhadap pemerintahan Indonesia yang dilakukan oleh IMF dan Bank Dunia dapat dilihat melalui anggota negara Paris Club, Inter Govermental Group on Indonesia (IGGI) yang diganti menjadi Consultative Group for Indonesia (CGI )yaitu badan yang beranggotakan Amerika serikat, Jepang, Jerman Barat, Inggris, Belanda, Italia, Perancis, Kanada, dan Australia, serta IMF dan Bank Dunia yang memperkirakan besar bantuan/ pinjaman untuk Indonesia. Antara 1967 dan 1967 IMF dan Bank Dunia telah membuat perekonomian didekte oleh pemodal asing (khususnya Amerika Serikat) melalui deregulasi dan swastanisasi.
Dalam melakukan bantuannya ke Indonesia, IMF dinilai tidak sepenuh hati, karena dalam prakteknya menunda pengucuran dananya (31 Oktober 1997 dan 15 Maret 1998). Selain itu bantuan IMF juga disertai syarat-syarat yang berisi program dalam Letter of Intent (LoI) mencakup kebijakan makro-ekonomi (kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan nilai tukar), restrukturisasi sektor keuangan (program restrukturisasi bank, memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan), reformasi struktural (perdagangan luar negeri dan investasi, deregulasi dan swastanisasi, social safety net, dan Lingkungan hidup)

Syarat dan nasehat IMF terhadap Indonesia tidak memiliki keberhasilan karena pada saat itu tahun 2002 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 3,66%, dimana penyerapan angkatan kerja baru hanya 1,7 juta orang dari 2,5 juta orang angkatan kerja baru. Hasil penelitian Johnson dan Schaefer (1997 dalam http://wisnusudibjo.wordpress.com) sejak tahun 1965-1995 menunjukkan, bahwa perekonomian 48 dari 89 negara berkembang yang menerima bantuan IMF tidak menjadi lebih maju. Bahkan, 32 dari 48 negara tersebut justru menjadi lebih miskin. IMF terlihat adanya kesan memaksakan kepada pemerintah Indonesia untuk memangkas pengeluaran pemerintah untuk sektor sosial (subsidi), melakukan deregulasi ekonomi, dan melakukan privatisasi perusahaan milik negara. Peraturan ini menyebabkan berkurangnya subsidi pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, pangan dan perumahan, listrik, tari telefon dan bahan bakar minyak. Campur tangan IMF terhadap kebijakan ekonomi Indonesia, bahkan sampai pada kebijakan politik, seperti kasus cengkeh dan tari nol persen untuk impor beras, skandal bank Bali, audit Pertamina, RUU anti korupsi, dan penentuan pendapat di Timor Timur, revisi APBN, pengantian Menko dan BPPN, serta amandemen undang-undang BI. Dilain pihak privatisasi memungkinkan BUMN dimiliki oleh pihak swasta sehingga semua sektor memungkinkan dimasuki investor asing. Kebijakan IMF di sektor makro ekonomi ini berdampak pada bertambahnya tingkat kemiskinan karena penetapan upah rendah, lahirnya kurs mengambang bebas bulan oktober 1997 (mengantikan managing floating sejak Oktober 1978) yang memberikan resiko karena pemerintah tidak dapat memprediksi kebijakan fiskal dan moneternya terhadap mata uang Rupiah, serta berkembangnya spekulan dalam kegiatan perdagangan valas karena untuk mendapatkan untung. Kebijakan moneter IMF yang diberikan bisa menyebabkan tidak bergeraknya sektor riil karena tingkat suku bunga yang tinggi, juga belum tentu dapat menguragi capital outlow. Kebijakan IMF untuk menekan inflasi dipertanyakan keberhasilannya di Indonesia, karena inflasi tidak hanya dipengaruhi kebijakan moneter tetapi karena adanya praktek monopoli dan oligopoli, permasalahan distribusi dan biaya transaksi karena pembelian input dari luar negeri (import inflation). Sedangkan aliran capital outflow juga dipengaruhi oleh stabilitas sosial, keamanan dan politik.

Tahun 2004, Pemerintah tidak lagi menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan IMF, termasuk hubungannya dengan CGI di Paris. Namun campur tangan IMF ke Indonesaia dilihat dari kegiatan IMF dalam memberikan saran kepada pemerintah Indonesia untuk tidak menerapkan pajak atas modal asing yang masuk disampaikan oleh Direktur IMF untuk Departemen Asia dan Pasifik Anoop Singh di sela acara Seminar Internasional bertajuk Rethinking Macroeconomics and Financial Policies di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat (22/10/2010). Yang seharusnya disikapi dengan bijak oleh otoritas moneter Indonesia. misalnya dengan pengenaan pajak atas modal asing yang masuk jika menetap/diinvestasikan di Indonesia dan ditarik sebelum masa 1 (satu) tahun sejak capital tersebut masuk ke Indonesia. Justru Otoritas Moneter Indonesia harus menerapkan pengenaan pajak terhadap aliran modal asing (capital inflow) yang hanya numpang lewat atau tidak masuk untuk investasi real yang bisa mengoncang ekonomi. Brazil dan Thailand sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, dimana ekonomi mereka termasuk Bursa Saham mereka hancur akibat banyaknya capital inflow yang masuk hanya sekedar kost atau numpang tinggal sebentar. Begitu capital inflow ini check out setelah menetap hanya sesaat, langsung bursa saham dan perekonomian rontok. (http://ekonomi.kompasiana.com)

KESIMPULAN
IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia, memberikan program terlalu seragam, padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama dan program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu. Bagi Indonesia IMF kurang serius karena dalam memberikan bantuan lambat dan bertahap sehingga menyebabkan resesi berkepanjangan.
Keterlambatan pemberian dana IMF memberikan dampak pada jatuhnya pemerintahan Soeharto, menurunnya permintaan barang impor, perjalanan keluar negeri dan pengiriman pelajar keluar negeri. Juga memberikan dampak pada peningkatan kegiatan eksport, pengurangan kandungan bahan import terhadap produk dalam negeri sedikit, masuknya turis asing, dan adanya proteksi industri dalam negeri karena merosotnya nilai tukar Rupiah.
Perlu adanya reformasi ditubuh IMF terhadap kebijakan makro, pencegahan dan penanganan krisis.

DAFTAR PUSTAKA
Ball, Donald A. Wendee H. McCulloch, JR. Paul L Franz. J Michael Geringer, dan Michael S Minor. 2004. International Bisnis: The Challenge of Global Competition 9th ed. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
http://www.imf.org/external/pubs/ft/exrp/what/IND/whati.pdf
http://sempurnaselalu.blogspot.com/2009/07/sejarah-bumn-imf-wb-dan-privatisasi-di.html

Search
Categories
Archives

You are currently browsing the archives for the Uncategorized category.