MetroTV
Selasa, 7 Desember 2010 09:36 WIB

Secara historis-politis, cukup validkah kita mempertentangkan antara Barat dan Islam? Pertanyaan inilah yang secara provokatif namun logis dibahas oleh Graham E. Fuller dalam karya terbarunya A World Without Islam (2010). Fuller yang sekarang menjadi Profesor sejarah di Simon Frase University (Canada), pernah menjadi orang penting di lingkaran CIA, sehingga memiliki data lapangan yang kaya dan ketajaman analisis sebagai sosok akademisi.

Menurut Fuller, tanpa kehadiran Islam pun sesungguhnya Barat dan Timur Tengah sejak berabad-abad yang lalu sudah terlibat konflik dan peperangan. Abad lalu jika disebut Barat berarti Eropah. Tetapi sekarang simbol kekuatan Barat direbut oleh Amerika Serikat. Namun, sesungguhnya sentimen dan akar konflik serta perebutan hegemoni regional dan agama antara Barat dan Timur Tengah sudah berlangsung berabad-abad. Bahkan itu terjadi di lingkaran Kristen sendiri, baik konflik antara Protestan dan Katolik yang berdarah-darah maupun antara Katolik Roma dan Katolik Timur Tengah. Bukankah ketiga agama yang selalu terlibat konflik – Yahudi, Kristen dan Islam – semuanya lahir di kawasan Timur Tengah?

Fuller menulis: In today’s world, “Islam” has become the bumper sticker for America, the default cause of many of our problems in the Muslim world. In the past we have gone in to do battle with anarchists, Nazis, Facists, communists – today it is “radical Islam” (hal 8). Bagi AS, Islam dikonstruksi sedemikian rupa sebagai sasaran tembak untuk melakukan konsolidasi kekuatan Barat dalam upaya menguasai dan menjarah sumber alam Timur Tengah. Sementara bagi negara-negara Timur Tengah Islam dijadikan perekat untuk melakukan perlawanan terhadap Barat. Padahal, posisi Islam hanyalah komplementer saja yang datang belakangan. Tanpa Islam persaingan Barat versus Timur Tengah akan tetap berlanjut, yang sekarang ini Timur-Tengah dalam posisi kalah.

Lagi-lagi Fuller mengingatkan, Actually, in many senses there is no “Muslim world” at all, but rather many Muslim worlds, or many muslim countries and different kinds of Muslims. Jadi, yang namanya “dunia Islam” sebagai sebuah entitas politis-ekonomis secara solid dan kohesif sesungguhnya tidak ada, sebagaimana juga tidak ada yanga nama “Barat” yang tunggal. Secara politis dan ekonomis negara-negara Muslim mempunyai agenda dalam negerinya masing-masing dan bahkan mesti dibayar dengan perang untuk mempertahankan kepentingan komunalisme regional dan indetitasnya.

Konflik yang terjadi antara Syria, Irak, Iran, Saudi Arabia dan Mesir hanyalah kelanjutan persaingan etnis dan regional jauh sebelum Islam datang. Begitu pun persaingan antara Gereja Roma, Konstantinopel dan Orthodoks Timur yang berpusat di Syria dan Palestina sudah berlangung ratusan tahun. Kemuliaan agama selalu saja tercoreng dan terkooptasi oleh negara yang secara laten berambisi memenuhi nafsu kekuasaan politik dan ekonominya.

Meski Kristen lahir di wilayah Arab, agama ini berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Namun, sengketa dan klaim mazhab atau sekte tidak pernah hilang. Beberapa sekte Kristen orthodoks Timur yang menggunakan Bahasa Arab dan Yunani mengklaim dirinya paling dekat dengan tradisi Yesus. Namun, mereka sadar sebagai pihak yang kalah dalam persaingan politik dan ekonomi dengan sekte Kristen yang berkembang di Barat. Klaim sebagai komunitas paling dekat dengan tradisi Islam yang otentik juga dikembangkan oleh masyarakat Muslim Saudi Arabia, sehingga memandang umat Islam non-Arab seperti Turki dan Indonesia sebagai umat Islam pinggiran (pheriperal).

Meski dikenal sebagai kantong umat Islam terbesar, Islam Indonesia dianggap rendah kadar keislamannya. Di lingkungan masyarakat Barat pun baru belakangan ini semakin tahu Indonesia sebagai “the largest muslim country”, terutama setelah Barack Obama menjadi Presiden AS yang belum lama ini berkunjung ke Indonesia dan pidatonya diikuti oleh rakyatnya. Dunia baru tahu bahwa ternyata di Indonesia demokrasi dan Islam tidak perlu dipertentangkan.

Adapun peristiwa terorisme yang mengatasnamakan Islam memang kenyataan yang tidak bisa dibantah. Namun, sungguh ceroboh kalau kasus ini digeneralisasi untuk memberi lebel dunia Islam. Di satu sisi, radikalisme dengan simbol keagamaan dimunculkan oleh para militan Islam untuk meraih dukungan secara massif, namun di sisi Barat simbol ini sengaja digunakan untuk menciptakan musuh baru setelah komunis ambruk. Di dunia ini begitu banyak pemerintah yang sah yang semula oleh lawan politiknya, yaitu imperialis Barat, dianggap teroris. Jadi, menyebut “Dunia Islam” sebagai satu entitas politik, ekonomi dan kebudayaan perlu dipertanyakan kesahihannya.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta